Memulai perjalanan sebagai ibu menyusui ternyata tidak semudah membalik telapak tangan (beeuggh bahasanya). Banyak godaan dan tantangan ternyata pemirsah. Salah satunya adalah si baby yang rewel. Ya, awalnya Biya rewel. Nangis kenceng kalau lepas miminya. Mungkin dari awal ceritanya kali ya..
Jadi, waktu hari pertama lahir itu, Biya belum mau mimi. Karena (maaf) puting payudara saya ada yang ke dalam gitu alias inverted nipple. Kolostrum sudah mulai keluar. Tapi karena kuatir Biya dehidrasi, malam pertama dilalui di ruang bayi sementara saya melamun di ruangan kamar. Malam pertama gak ada baby di perut itu rasanya aneh. Dan kangen. Ya, memang lebai. Biarinlah. Pengalaman pertama saya jadi ibu juga. (membela diri)
Hari kedua, saya keukeuh pengen baby Biya di kamar. Karena jauh pun saya gak bisa tidur. Dan akhirnya dari jam 3 sore Biya mulai nempel. Nempelnya terus sampai jam 3 pagi! Yuhuuu..bergadang bertiga sama suami juga. Karena gantian pas saya pengen ke toilet Biya digendong papapnya dulu. Alhasil, papapnya dan saya kecapean. Padahal esoknya sudah waktunya membawa Biya pulang. Besoknya Biya dibolehkan pulang, sampai di rumah sore menjelang Ashar. Badan saya minta istirahat. Biya masih rewel. Mamah saya dan suami sepertinya kasian sama saya sehingga akhirnya Biya dikasih sufor. Ya, susu formula pemirsah! Ada perasaan bersalah ketika saya mengiyakan pemberian susu itu. Tapi lebih gak tega denger anak nangis kelaparan. Dari hari itu, Biya hanya beberapa kali diberi sufor.
Saya sudah senang Biya bisa lepas sufor. Malah saya yang kemudian sakit. Kurang istirahat akhirnya mengalahkan saya juga. Sehingga akhirnya Biya diberi sufor kembali. Dalam satu hari paling banyak 2 botol sufor dihabiskan Biya. Selalu merasa bersalah setiap saya ingat itu. Hingga Biya berusia 1 bulan 2 minggu sufor itu masih dikonsumsi. Memang tidak setiap hari. Tapi cukup membuat saya merasa menjadi ibu yang tidak berguna. Perasaan ini yang bikin saya stress pemirsah! Pernah nangis waktu Biya gak mau tidur juga dan saya ngerasa Biya begitu karena ASInya kurang. Dan itu bukan cuma sekali saja.
Setiap harinya saya berusaha meyakinkan diri bahwa ASI saya lebih dari cukup sehingga Biya tak perlu menyentuh lagi sufor. Hari demi hari hanya itu yang saya pikirkan. Untungnya suami mendukung saya ketika saya katakan saya tetap menyusui walau mata sudah perih. Ketika saya terkena milk blister pun saya paksakan menyusui. Sakitnya luar biasa. Tapi saya ingin anak saya tetap minum ASI. Ternyata obat mujarabnya memang tetap menyusui.
Flu menyerang pun saya tetap menyusui. Alhamdulillah Biya tetap sehat. Sampai sekarang pun Biya belum pernah sakit. Semoga sehat terus ya, Nak.
Perjuangan memberi ASI masih berlanjut. Biya belum genap 6 bulan. Apalagi 2 tahun. Masih jauh perjalanan menyusui saya. Dan masih selalu meyakinkan diri bahwa ASI saya cukup untuk Biya karena kalau saya pompa ya dapatnya cuma 90ml paling banyak. Tapi selalu disyukuri dapat berapapun. Akhir-akhir ini saya memang malas pompa. Karena Biya selalu mimi juga. Malam pun begitu. Jarang lepas mimi walau mata sudah tutup. Mungkin lagi growth spurt. Yang pasti sekarang saya lebih bisa mensiasati keinginan mimi Biya. Tiap hari belajar hal baru tentang Biya. Loving Biya is loving life itself.
Semangat ASI!!
